Pelajaran Hidup : Rendah Hati Tidak Membuatmu Rendah Sebagai Manusia
HIDUP KADANG DI ATAS KADANG DI BAWAH
Dulu, lagi bahas lepas Taman Kanak-Kanan (TK) anak mau lanjut ke Sekolah Dasar (SD) mana? Seorang Ibu dengan pongahnya bilang "SD negeri gak masuk ke radar aku, mana cepet banget pulangnya, yang dipelajari juga nggak jelas, ihhh," Kata salah satu Ibu dengan nada bicara judes.
Aku inget sekali ekspresinya saat bicara begitu, bibir dan gerakan bahunya yg kayak melihat sesuatu yg menjijikkan. Ekspresi yg sangat nggak pantas untuk sebuah bahasan sekolah, apalagi di sana, banyak ibu-ibu yang punya anak di SD negeri dan banyak pula ibu-ibu yang baru akan memasukkan anaknya ke SD negeri.
Sebenarnya, urusan masing-masing mau menyekolahkan anak dimana, pasti semua ada pertimbangannya. Jadi hargai saja, tidak semua orang punya dana untuk masuk ke sekolah swasta.
Waktu berlalu.
Eh anaknya yang bungsu ternyata terdampar di SD negeri. Kami bertemu di parkiran, dia sedang ditagih uang kas oleh koordinatir kelas, karena gak bayar-bayar padahal udah mau naik kelas.
***
Pernah juga, lagi bahas uang jajan anak.
Ada satu Ibu yg komen pedas:
"Pelit-pelit amat sama anak, ceban dapat apa? anak gue nih yg SMA udah gue pegangin ATM, serahlah mau jajan apa, yang SD aja jajannya segini...(dia buka kantong tas anaknya, di sana ada lembaran 50 ribu dan pecahan-pecahan 20 ribu, 10 ribu., nominal jajan yang wow untuk ukuran anak SD.)"
Waktu berlalu, tiba-tiba foto KTPnya beredar di kontak teman-teman, diingatkan pinjol "anda kenal pemilik ktp ini? Suruh dia bayar utang" dan itu dari banyak aplikasi.
***
Ada yang terlalu over posting foto mesra, dengan caption-caption suaminya paling malaikat sedunia, saking baiknya.
Segala diposting, dari tumpukan uang cash yang dikasih suami, foto abis keramas pagi, foto lengan suami, foto muka suami, foto bibir suami, yang katanya cakep tapi bagi yg liat sih Biasa saja, gak ada istimewanya.
Juga posting video saat suami mijitin kakinya, foto tiduran di sofa santai main hp dengan posisi kakinya di atas paha suami...intinya foto-foto yang menegaskan captionnya bahwa dia begitu diratukan, dimanja, dituruti segala maunya, suami nurut-nurut saja padanya....
Tak sekali dia bicara begini "ibu itu di rumah, santai-santai main sama anak, kok mau sih anak dititip pembantu?"
"Kan gak semua orang bisa kayak kamu, ada yg harus ikut kerja nyari uang karena memang kondisinya begitu," jawab Ibu yang lain.
"Tapi kok bisa, seharian kerja sepanjang siang gak ketemu anak, aku mah biarin suami aja yang kerja, aku tau beres aja," Balasnya.
Lama tak ada kabar. Lalu tiba-tiba muncul dengan suami baru. Boncengan ke pabrik yang sama, sama-sama jadi buruh di sana.
Oh rupanya pernikahan dulu yg dia sebut dia adalah ratu, udah selesai, si laki-laki memilih ratu yang baru.
Tanpa penghasilan dan tanpa tabungan, si mantan ratu terlunta-lunta, minta carikan kerjaan kantoran, tanpa dukungan pendidikan, pengalaman kerja dan skill memadai, gak dapat-dapat juga kerja kantoran. Untung masih diterima di pabrik, lalu menikah dengan sesama buruh di sana.
Apa kabar anaknya? Dititip di kampung ke orang tuanya. kampungnya jauh pula. Teringat dulu dia merendahkan orang lain yg kerja sepanjang siang gak ketemu anak, sekarang dia gak ketemu anak bukan hanya sepanjang siang, tapi berbulan-bulan.
Pelajaran....
Rendah hatilah!
Jangan mudah berkomentar yg merendahkan saat kamu di ketinggian.
Semua rumah tangga ada cerita, semua ada pertimbangannya, kenapa si A pilih SD negeri untuk anaknya, kenapa si B selalu bekalin anak dan anaknya nyaris gak dikasih uang jajan, kenapa si C memilih terus bekerja dan nitip anak ke ART...semua ada alasannya.!!
Kehidupan sering tak tertebak.... yang dipuja-puja setia bisa juga mendua....yang tadi mampu masukin anak ke 1 dan 2 sekolah swasta karena lagi jaya, eh pas di anak ke 3 kena PHK, ekonomi porak-poranda akhirnya pilih SD gratis juga yang dulu dihina-hina, yang tadi uang jajan anak berlimpah dan bilang orang lain pelit karena uang jajan anaknya dikit, eh terkena pailit sehingga utang melilit-lilit.
Jangan sombong, jangan pongah, simpan kebahagiaanmu dalam syukurmu.
Source : Fitra Wilis Masril (Facebook)
Komentar
Posting Komentar